Eksplo No 24/thII,16-31 Juli 2009,Keberhasilan demi keberhasilan dicatat kelompok Abah Ana. Salah satu prestasi yang paling membanggakan Abah Ana adalah tingginya rasia telur yang dihasilkan kawanan itiknya, sekitar 90 persen. Dengan kata lain, dari 64 ekor itik yang dimilikinya diperoleh 59 telur setiap hari. Perolehan ini jauh lebih tinggi dari rasia rata-rata peter¬nak itik lain yang hanya sekitar 65 persen.

Potensi membanggakan ini dilirik dinas peternakan setempat. Kelompok peter¬nak itik Abah Ana diikutsertakan dalam kompetisi ternak itik tradisional s8-Jawa Barat. Kelompok ini menggondol juara ke-2. Tak cukup hanya berprestasi di tingkat propinsi. kelompok ini pun akan mewakili Jawa Barat pada kompetisi serupa di tingkat nasional pada pekan terakhir Juli 2009. Pada akhir Juni lalu, Bupati Bandung Barat Abubakar pun sempat meninjau kelompok ini.
Kelompok ini menyusun formula pakannya sendiri. Pakan diyakini menjadi faktor pen¬ting yang menentukan tingkat produksi te¬lur itik. Dalam adonan pakan, dicampurkan enceng gondok, bekicot dan ikan pepetek yang mudah diperoleh di sepanjang pesisir genangan Waduk Saguling. Pakan dengan nutrisi yang lengkap akan menaikkan pro¬duktivitas itik dalam bertelur.
Produksi berupa telur itik maupun itik hasil tetasanpun selalu terserap seluruhnya oleh pasar, malah ada kecenderungan pening¬katan permintaan. Kelompok ternak Abah Ana dan rekan-rekannya ini, kini beromzet sekitar Rp8 juta per bulan. Kesejahteraan keluarga Abah Ana kini terangkat setelah ia beternak itik.
Adapun Iwan, seorang peternak itik di kelompok yang sama dengan Abah Ana, mengungkapkan bahwa gizi keluarga men¬jadi tereukupi dengan asupan makanan berupa telur itik. Tak heran, kini terbentuk tiga kelompok baru peternak itik yang anggotanya adalah para mantan penggali pasir liar, setelah melihat kesuksesan Iwan dan Abah Ana. Masing-masing kelompok beranggotakan 10 orang.
Belum banyak warga sekitar daerah tang¬kapan air Waduk Saguling yang memiliki kesadaran seperti Abah Ana dan Jwan. Para penggali pasir berpendapat, mereka bebas mengambil pasir karena lahan itu milik rakyat. Mereka belum sadar akan bahaya tindakan yang mereka Jakukan.
Apa yang membuat Iwan berhenti menggali pasir? "Saguling itu untuk listrik se¬Jawa Bali. Kalau saya gali pasir Saguling, yang kena akibatnya ya se-Jawa Bali," ujar Iwan berapi-api. Dahulu, Iwan tidak mengerti bahaya ini.
Setelah diberi pemahaman oleh rekan-re¬kan KKS, barulah Iwan mengerti risiko dan dampaknya. Iwan berharap, mereka yang kini masih menggali pasir bisa segera cepat paham seperti dirinya.
Iwan mengenang masa-masa ia menjadi penggali pasir. Pagi-pagi sekali ia berang¬kat, pulang baru setelah gelap. Badannya kurus, beberapa bagian tubuhnya pun leeet lantaran harus membawa beban be¬rat sepanjang hari. Padahal, uang yang di¬peroleh hanya sekitar Rp30 ribu per hari. Jika disuruh memilih antara menggali pasir dan beternak itik, mana yang dipilih Abah Ana dan Jwan? Mereka kompak menjawab, "Itik atuh neng.