Skip Ribbon Commands
Skip to main content

Title

Lima Hari Menjelajah Sorong-Bintuni-Nabire-Timika-Wamena-Digul-Merauke-Jayapura

Sinopsis

Ditulis oleh Dahlan Iskan,CEO PLN
Selasa, 23 Agustus 2011 06:50

Hujan turun sepanjang malam di Wamena.Sambil makan sahur di pedalaman Papua yang dingin itu saya mengkhawatirkan gagalnya acara penting keesokan harinya : ekspedisi menyusuri tebing sungai Baliem. Mencari lokasi yang cocok untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga air(PLTA) bagi penduduk pegunungan tengah Papua.Pagi itu kami,empat direksi,pimpinan PLN setempat dan beberapa penunjuk jalan berangkat diiringi titik-titik hujan. Panitia membagikan topi Mbah Surip untuk mengurangi rasa dingin. Dua dokter membawa peralatan medis.Dan seorang lagi memanggul tabung oksigen.​

Article

Setelah 15 menit naik mobil melewati jembatan sungai Walesi yang lagi ambles digerus banjir,jalan aspal ini tiba-tiba putus. Gunung besar di kanan jalan itu rupanya longsor menjadi banjir bandang yang menghancurkan apa saja tak terkecuali jalan aspal itu. Mirip dengan apa yang terjadi di Wasior,Papua Barat,yang menewaskan ratusan orang itu. Hancurnya jalan raya ini membuat banyak anak sekolah harus berjalan kaki sejauh 10 km setiap hari.

Kami pun mulai masuk ke tanah setapak menuruni gunung yang terjal,meloncati sungai kecil,naik lagi ke bukit,menyusuri bibir jurang yang curam,merayapi tebing yang berbatu dan sesekali kepeleset jalan yang licin. Keringat mulai bercucuran. Jaket dan penutup telinga tidak lagi berfungsi. Gerimis sudah lama berhenti dan langit mulai membiru.

Penduduk setempat,yakni suku Wamena yang berwajah cendekia,bertanam holtikultura di tebing-tebing seperti itu:ketela,kentang,wortel,berbagai jenis keladi,jagung,jahe,kecipir dan sebangsanya.Keladi Wamena,apalagi yang berwarna ungu,luar biasa enaknya.Dua malam di Wamena saya tidak henti-hentinya menikmati keladi ungu ini.

Ketergantungan pada tanaman setempat inilah rupanya yang menyebabkan penduduk terkena bencana kelaparan yang menghebohkan lima tahun lalu ketika terjadi kemarau panjang di situ.Saatini,dengan hujan yang cukup,semua tanaman kelihatan memberi harapan.Dan babi-babi yang berkeliaran di setiap pekarangan kelihatan gemuk-gemulai.

Banyaknya babi itu pula yang menyebabkan perjalanan ini lebih berat lagi.Penduduk umumnya membuat pagar batu yang menutup jalan setapak itu untuk menghalangi babi merusak tanaman.Tapi kami bukan babi sehingga selalu mampu melompatinya,meski kadang harus merayapinya.Atau harus dengan cara menaiki sebatang kayu.Sesekali memerlukan pertolongan orang lain agar pantat bisa terangkat.

Bahwa ekspedisi ini tidak menyiksa,semata-mata karena kami memang sedang dalam antusiasme yang tinggi untuk menemukan lokasi PLTA itu. Apalagi kami bisa menikmati pemandangan yang tidak mungkin ditemukan di tempat lain:alami tapi eksotis.Menengok ke kanan atas kami melihat perbukitan yang berebut menuding langit.Menengok ke kiri bawah kami melihat aliran sungai yang berbatu dengan suara air deras yang mistis.Sesekali kami berpapasan dengan banyak anak muda,laki-perempuan,dari Spanyol yang ternyata sangat menyukai wisata jenis ini.

Yang membuat perjalanan ini juga asyik adalah suhu udara yang sejuk.Seperti di Eropa pada bulan Oktober.Hampir sepanjang tahun Tuhan memberi AC secara gratis.Siang dan malam.Tidak pilih kasih:manusia,sungai-sungai,gunung-gunung,babi-babi beserta aneka tanaman di seluruh Wamena.Karena itu tidak ada hotel atau rumah yang pasang AC.Ketinggian Wamena yang 1.700 meter di atas laut,membuatnya sejuk sepanjang tahun.Sejuk yang nyaman karena humidity yang cukup.Tidak seperti dingin di Eropa yang amat kering yang sering membuat bibir pecah berdarah.

Lebih sedikit dari pukul 11.00 kami sudah tiba di lokasi yang diimpi.Yakni satu lokasi yang aliran sungainya menyempit.Kanan-kirinya gunung yang tinggi dan tebingnya terjal.Aliran airnya sangat deras pertanda di hilirnya masih sangat curam.Adanya belokan setelah tebing yang sempit itu sungguh ideal.Gambaran seperti itulah yang sangat cocok untuk sebuah hydropower.Syarat-syarat untuk dibangunnya PLTA terpenuhi semua.Inilah lokasi yang dikategorikan berkelas emas.

Bersama penduduk setempat,tua-muda,anak-anak dan remaja,gadis-gadis dan ibunya,kami duduk di lereng bukit itu menghadap ke arah lembah aliran sungai.Kelelahan seperti terbayar lunas.Kami sangat menikmati pemandangan sambil istirahat.Hanya Nur Pamudji,Direktur Energi Primer PLN,yang selama istirahat satu jam itu tetap berdiri.Sebagai pendaki gunung yang handal dia memberitahukan resep ini:jangan istirahat sampai duduk atau berbaring!Itu akan membuat perjalanan berikutnya lebih berat.Dia tahu kami tidak boleh lengah karena masih harus kembali menyusuri jalan pulang yang sama beratnya.

Saya bukan pendaki gunung,tapi saya optimistis bisa melakukan perjalanan ini.Saya pernah jalan kaki dari Makkah ke Arafah sejauh 45 km.Yakni waktu naik haji.Kembali ke Makkah keesokan harinya juga berjalan kaki.Hanya saja saya sekarang sudah 20 tahun lebih tua.Dan masih berstatus pasien transplantasi hati.

Tentu kami ingin lebih lama di lereng bukit itu.Kami seperti sedang jatuh cinta dengan tanah Wamena.Apalagi di lokasi itu kami bisa berkumpul dengan warga setempat dalam suasana yang santai dan akrab.Dialog pun penuh perhatian dan tawa.Mereka mengerti dengan baik bahasa Indonesia hanya saja kalau mengajukan pertanyaan masih merasa nyaman dengan bahasa Wamena.Dengan tulus mereka juga mengingatkan agar kami berhati-hati dalam membangun proyek raksasa ini.Gunung-gunung berbatu yang kelihatannya keras itu pada dasarnya mudah longsor.

Merasakan keakraban ini saya menyesal seandainya tidak jadi ke pedalaman Papua hanya gara-gara berita media yang menggambarkan rusuhnya wilayah itu sehari sebelum sayab erangkat dari Jakarta.Banyak sahabat yang mencegah saya berangkat Rabu lalu,tapi feeling saya mengatakan akan baik-baiksaja.

Rasa kekeluargaan penduduk pedalaman ini juga sangat menonjol.Setiap berpapasan dengan orang yang sama-sama menggunakan jalan setapak itu mereka selalu mengajak salaman.Salamannya pun sangat kuat.Pertanda ingin menjalin persaudaraan dan kepercayaan.Bahkan beberapa kali,sambil salaman itu,mereka sampai merangkul pundak saya.Tegur sapa seperti itu tidak hanya di jalan setapak,tapi juga di ladang-ladang holtikultura.Melihat kami melintas di situ,seorang petani yang menggarap tanah di lereng bawah sana mendongakkan kepala dan berteriak menyapa.Sebuah keramahan pegunungan yang mestinya bisa melahirkan berkoli-koli puisi.

Sumber : CEO Notes Agustus-1​​

Publish

Yes

ID_Copy

151

Attachments

Created at 8/25/2011 8:03 AM by  
Last modified at 10/7/2011 2:32 PM by userportal1