Setelah 15
menit naik mobil melewati jembatan sungai Walesi yang lagi ambles digerus
banjir,jalan aspal ini tiba-tiba putus. Gunung besar di kanan jalan itu rupanya
longsor menjadi banjir bandang yang menghancurkan apa saja tak terkecuali jalan
aspal itu. Mirip dengan apa yang terjadi di Wasior,Papua Barat,yang menewaskan
ratusan orang itu. Hancurnya jalan raya ini membuat banyak anak sekolah harus
berjalan kaki sejauh 10 km setiap hari.
Kami pun mulai masuk ke tanah setapak menuruni gunung yang terjal,meloncati
sungai kecil,naik lagi ke bukit,menyusuri bibir jurang yang curam,merayapi
tebing yang berbatu dan sesekali kepeleset jalan yang licin. Keringat mulai
bercucuran. Jaket dan penutup telinga tidak lagi berfungsi. Gerimis sudah lama
berhenti dan langit mulai membiru.
Penduduk setempat,yakni suku Wamena yang berwajah cendekia,bertanam
holtikultura di tebing-tebing seperti itu:ketela,kentang,wortel,berbagai jenis
keladi,jagung,jahe,kecipir dan sebangsanya.Keladi Wamena,apalagi yang berwarna
ungu,luar biasa enaknya.Dua malam di Wamena saya tidak henti-hentinya menikmati
keladi ungu ini.
Ketergantungan pada tanaman setempat inilah rupanya yang menyebabkan penduduk
terkena bencana kelaparan yang menghebohkan lima tahun lalu ketika terjadi
kemarau panjang di situ.Saatini,dengan hujan yang cukup,semua tanaman kelihatan
memberi harapan.Dan babi-babi yang berkeliaran di setiap pekarangan kelihatan
gemuk-gemulai.
Banyaknya babi itu pula yang menyebabkan perjalanan ini lebih berat
lagi.Penduduk umumnya membuat pagar batu yang menutup jalan setapak itu untuk
menghalangi babi merusak tanaman.Tapi kami bukan babi sehingga selalu mampu
melompatinya,meski kadang harus merayapinya.Atau harus dengan cara menaiki sebatang
kayu.Sesekali memerlukan pertolongan orang lain agar pantat bisa terangkat.
Bahwa ekspedisi ini tidak menyiksa,semata-mata karena kami memang sedang dalam
antusiasme yang tinggi untuk menemukan lokasi PLTA itu. Apalagi kami bisa
menikmati pemandangan yang tidak mungkin ditemukan di tempat lain:alami tapi
eksotis.Menengok ke kanan atas kami melihat perbukitan yang berebut menuding
langit.Menengok ke kiri bawah kami melihat aliran sungai yang berbatu dengan
suara air deras yang mistis.Sesekali kami berpapasan dengan banyak anak
muda,laki-perempuan,dari Spanyol yang ternyata sangat menyukai wisata jenis
ini.
Yang membuat perjalanan ini juga asyik adalah suhu udara yang sejuk.Seperti di
Eropa pada bulan Oktober.Hampir sepanjang tahun Tuhan memberi AC secara
gratis.Siang dan malam.Tidak pilih
kasih:manusia,sungai-sungai,gunung-gunung,babi-babi beserta aneka tanaman di
seluruh Wamena.Karena itu tidak ada hotel atau rumah yang pasang AC.Ketinggian
Wamena yang 1.700 meter di atas laut,membuatnya sejuk sepanjang tahun.Sejuk
yang nyaman karena humidity yang cukup.Tidak seperti dingin di Eropa yang amat
kering yang sering membuat bibir pecah berdarah.
Lebih sedikit dari pukul 11.00 kami sudah tiba di lokasi yang diimpi.Yakni satu
lokasi yang aliran sungainya menyempit.Kanan-kirinya gunung yang tinggi dan
tebingnya terjal.Aliran airnya sangat deras pertanda di hilirnya masih sangat
curam.Adanya belokan setelah tebing yang sempit itu sungguh ideal.Gambaran
seperti itulah yang sangat cocok untuk sebuah hydropower.Syarat-syarat untuk
dibangunnya PLTA terpenuhi semua.Inilah lokasi yang dikategorikan berkelas
emas.
Bersama penduduk setempat,tua-muda,anak-anak dan remaja,gadis-gadis dan
ibunya,kami duduk di lereng bukit itu menghadap ke arah lembah aliran
sungai.Kelelahan seperti terbayar lunas.Kami sangat menikmati pemandangan
sambil istirahat.Hanya Nur Pamudji,Direktur Energi Primer PLN,yang selama
istirahat satu jam itu tetap berdiri.Sebagai pendaki gunung yang handal dia
memberitahukan resep ini:jangan istirahat sampai duduk atau berbaring!Itu akan
membuat perjalanan berikutnya lebih berat.Dia tahu kami tidak boleh lengah
karena masih harus kembali menyusuri jalan pulang yang sama beratnya.
Saya bukan pendaki gunung,tapi saya optimistis bisa melakukan perjalanan
ini.Saya pernah jalan kaki dari Makkah ke Arafah sejauh 45 km.Yakni waktu naik
haji.Kembali ke Makkah keesokan harinya juga berjalan kaki.Hanya saja saya
sekarang sudah 20 tahun lebih tua.Dan masih berstatus pasien transplantasi
hati.
Tentu kami
ingin lebih lama di lereng bukit itu.Kami seperti sedang jatuh cinta dengan
tanah Wamena.Apalagi di lokasi itu kami bisa berkumpul dengan warga setempat
dalam suasana yang santai dan akrab.Dialog pun penuh perhatian dan tawa.Mereka
mengerti dengan baik bahasa Indonesia hanya saja kalau mengajukan pertanyaan
masih merasa nyaman dengan bahasa Wamena.Dengan tulus mereka juga mengingatkan
agar kami berhati-hati dalam membangun proyek raksasa ini.Gunung-gunung berbatu
yang kelihatannya keras itu pada dasarnya mudah longsor.
Merasakan keakraban ini saya menyesal seandainya tidak jadi ke pedalaman Papua
hanya gara-gara berita media yang menggambarkan rusuhnya wilayah itu sehari
sebelum sayab erangkat dari Jakarta.Banyak sahabat yang mencegah saya berangkat
Rabu lalu,tapi feeling saya mengatakan akan baik-baiksaja.
Rasa kekeluargaan penduduk pedalaman ini juga sangat menonjol.Setiap berpapasan
dengan orang yang sama-sama menggunakan jalan setapak itu mereka selalu
mengajak salaman.Salamannya pun sangat kuat.Pertanda ingin menjalin persaudaraan
dan kepercayaan.Bahkan beberapa kali,sambil salaman itu,mereka sampai merangkul
pundak saya.Tegur sapa seperti itu tidak hanya di jalan setapak,tapi juga di
ladang-ladang holtikultura.Melihat kami melintas di situ,seorang petani yang
menggarap tanah di lereng bawah sana mendongakkan kepala dan berteriak
menyapa.Sebuah keramahan pegunungan yang mestinya bisa melahirkan berkoli-koli
puisi.
Sumber : CEO Notes Agustus-1