Skip Ribbon Commands
Skip to main content
Navigate Up
Sign In
4/19/2012 10:26:20 AM
Indonesia Power Response to Climate Change

Tahun 2012 merupakan kali kedua PT Indoensia Power mengikut kegiatan 2nd Climate Change Education Forum & Expo 2012.  Seperti kita ketahui bersama peningkatan gas-gas rumah kaca yang mendorong  naiknya suhu global menyebabkan ancaman perubahan iklim yang kini telah menjadi salah satu isu utama di Indonesia. Dampak perubahan iklim mencakup semua aspek kehidupan manusia dan dirasakans ecara global. Seluruh bangsa di Dunia,termasuk Indonesia, telah terlibat dalam upaya internasional untuk mengahdapi perubahan iklim. Konferensi PBB untuk perubahan iklim yang berlangsung di Bali, Indonesia, pada Desember 2007 telah menjadikan perubahan iklim sebagai salah satu isu prioritas di Indonesia.

Berbagai fakta dan bukti ilmiah  mengenai perubahan iklim dan dampaknya di Indonesia tidak dapat dipungkiri lagi. Hal ini perlu dikomunikasikan secara maksimal dan komperhensif agar dapat diterima dan diserap oleh berbagai Sektor , pihak/prilaku, serta seluruh lapisan masyarakat. Selama 4 hari mulai dari tanggal 19 s.d 22 April 2012, menempati sudut ruang Jakarta Convention Center Indonesia Power menampilkan Stand Ramah Lingkungan (Booth 3R) kegiatan dan program unggulan yang dikomunikasikan diantaranya pencapaian PLTP Gunung Salak untukCarbon Credit melalui skema VCS, perangkat lunak Carbon Calculator, program Climate Smart leader untuk memperebutkan Emil Salim Award bagi kalangan muda dan program kepedulian keanekaragaman hayati pelepas liaran burung elang kerjasama dengan Suaka Elang dan Raptor Indonesia (RAIN) sekilas tentang program yang ditampilkan :
 
·         PELOPOR DALAM PEMANFAATAN ENERGI TERBARUKAN
Berada di tanah yang diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum, PLTP kamojang adalah pembangkit listrik pertama yang memanfaatkan panas bumi di Indonesia sejak tanggal 7 Februari 1983. Indonesia yang kaya dengan wilayah gunung berapi, memiliki potensi panas bumi yang bias dimanfaatkan sebesar 27.000 MW, sebagai energy alternative, panas bumi memiliki beberapa keunggulan : mudah didapat secara kontinyu dalam jumlah besar, ketersediaannya tidak terpengaruh terhadap cuaca, bebas polusi udara  karena tidak menghasilkan gas berbahaya (kecuali CO2 yang bias dimanfaatkan dari non-condensable gas) serta merupakan energy yang dapat diperbaharui. Selain itu proses pemanfaatannya relative sederhana sehingga investasi yang dibutuhkan lebih murah.
Melalui Unit Bisnis Pembangkitan Kamojang, saat ini Indonesia Power mengoperasikan pembangkit listrik tenaga panas bumi dengan kapasitas total 375 MW, terbesar di Indonesia. Salah satu unit yang dikelolanya , yaitu PLTP Gunung salak menjadi pembangkit litrik pertama yang berhasil berpartisipasi dalam perdagangan karbon Internasional melalui skema VCS (Voluntary Carbon Scheme)
 
·         CARBON CALCULATOR
Carbon Calculator akan membantu menghitung emisi CO2 keluarga anda serta membantu anda memilih diet terbaik berkontribusi pada Bumi. Program Karbon kalkulator  merupakan perangkat lunak yang dibuat berdasarkan adaptasi kondisi Indonesia terhadap model Carbon Footprint. Diluncurkan pertama kali tahun 2007 dalam program “Plant Trees Like Crazy” yang menghasilkan komitmen penanaman ribuan pohon di DAS Citarum dan secara remsi digunakan mulai Desember 2007 sebagai pendukung Konferensi Internasional untuk perubahan Iklim ke-13 yang dilaksanakan di Bali. Program ini medapat rekor MURI tahun 2008 yang diserahkan kepada PT Indonesia Power sebagai perusahaan pertama di Indonesia yang menghitung emisi karbon pegawai serta membayar kompensasinya melalui penanaman pohon.
 
·         CLIMATE SMART LEADER
Merupakan ajang tahunan yang dilaksanakan oleh PT Indonesia Power bekerjasama dengan LEAD Indonesia, yayasan Pembangunan Berkelanjutan untuk penganugrahan EMIL SALIM Award bagi kalangan muda yang berinovasi terhadap program-program berwawasan  lingkungan salah satu diantaranya para anak muda bisa mempresentasikan Indikasi Capung sebagai dokter Sungai dan sisa kupasan kulit udang sebagai obat Kolesterol serta banyak penemuan penemuan lain yang begitu sederhana, tidak perlu alat yang canggih dan tercipta dari idea anak muda Indonesia.
 
·         BANGGA MENJAGA IDENTITAS BANGSA
Perubahan iklim merusak kestabilan lingkungan dan ekosistem tidak semua species siap menghadapinya, termasuk berbagai jenis pemangsa di Indonesia termasuk simbul Negara kita. Burung Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) merupakan salah satu jenis elang berukuran sedang yang hanya dapat ditemukan di pulau Jawa. Keberadannya sangat bergantu pada hutan alami di Jawa.
Satwa ini dianggap identik dengan lambing Negara Republik Indonesia, yaitu Garuda. Sejak tahun 1992 burung ini ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia melalui keputusan Presiden Nomor 4 tahun 1993 tentang Satwa dan Bunga nasional, pemerintah RI mengukuhkan Elang Jawa sebagai wakil satwa langka dirgantara.
Populasi burung Elang Jawa dialam diperkirakan tinggal 600 ekor, sehingga pemerintah Indonesia melindungi Elang Jawa. Melalui PP No 7 tahun 1999 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistimnya, sangsi  terhadap pelanggaran ini diatur dalam Undang-undang No. 5 tahun 1990 pasal 21 (ayat 2) adalah “ dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp. 100 juta rupiah.
Badan Konservasi Dunia Perserikatan Bangsa-bangsa mengkatagorikan Flora dan Fauna yang terancam punah dimasukan dalam Apendix 1 yang artinya mengatur perdagangan extra ketat. Kriteria terbaru dari IUCN Elang Jawa dimasukan dalam katagori  Endangered atau “Genting” (Collar et al, 1994, Shannaz et al., 1995)
Selain menjaga habitat aslinya Indonesia Power mendukung kegiatan pelepas liaran kembali Elang yang ditangkap kealam bebas, setelah dilakukan penilaian kelayakan antara lain kajian kesehatan, prilaku yang meliputi kesiapan berburu dialam, prilaku social terhadap sesama jenis, maupun jenis satwa  lainnya, prilaku umum seperti terbang dan bertengger serta bersarang.
Selain Satwanya kajian juga dilaksanakan pada habitat yang menjadi ptempat pelepas liarannya, kawasan ini telah dikaji dan dinyatakan layak mejadi lokasi pelpas liaran Elang Jawa, berdasarkan tingkat gangguan dan ancaman, ketersediaan pakan, serta pemantauan jumlah burung pemangsa lainnya.