Skip Ribbon Commands
Skip to main content
Navigate Up
Sign In
6/18/2012 6:18:02 PM
PENCEMARAN CITARUM DERITA PLTA

Berdasarkan pantauan tim dari IP serta LSM dan media massa menemukan pencemaran di aliran Sungai Citarum. Bahkan pencemaran tersebut terjadi sejak 40 tahun silam. Di sepanjang saluran air menuju sungai Citarum, dikotori limbah industri dan limbah rumah tangga.

Menurut T Bachtiar, dari kelompok Riset Cekungan Bandung tercemarnya Sungai Citarum sudah berlangsung puluhan tahun. Di kawasan Cicalengka memang banyak berdiri pabrik tekstil yang membuang limbahnya ke Sungai Citarum. Hal itu bisa dilihat dari adanya perubahan warna air di selokan-selokan yang letaknya di belakang pabrik.

Kondisi ini  semakin parah dengan meningkatnya jumlah penduduk Limbah yang berasal dari sampah rumah tangga dan kotoran ternak juga tak kalah merusaknya. Sampah tersebut bisa mengikat oksigen yang terkandung dalam air dan menyebabkan bau menyengat. Akibatnya,  ikan atau tumbuhan tak betah hidup.

Derita Sungai Citarum akhirnya juga menjadi derita Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Saguling. PLTA ini merupakan salah satu pemasok listrik interkoneksi Jawa-Bali. PLTA seluas 5.600 hektare itu sangat bergantung kepada keberadaan air yang berkualitas. Keempat turbin pembangkit yang masing-masing berkapasitas 175,18 MW akan bekerja maksimal menghasilkan energi listrik 700-720 Kilowatt per jam jika kuantitas air sebanyak 875 juta meter kubik terpenuhi.

Keberadaan PLTA Saguling cukup strategis dalam menopang pasokan listrik. Ketika terjadi gangguan seperti pemadaman listrik atau kekurangan pasokan listrik di Jawa – Madura - Bali, PLTA ini hanya membutuhkan waktu sekitar enam menit untuk segera sinkron. Kemampuan ini membuat posisi Saguling cukup vital bagi jaringan listrik.

Namun, ya itu tadi, biaya operasional PLTA Saguling menjadi tinggi akibat tingkat pencemaran Sungai Citarum yang tinggi. ‘’Air Sungai Citarum menyebabkan korosi atau karat terhadap mesin pendingin,’’ ujar Eri Prabowo, General Manager PT. Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Saguling.

Setiap tahun  PLTA Saguling terpaksa harus membeli mesin pendingin baru seharga Rp 500 juta. Selain itu, dianggarkan Rp 1 miliar untuk membersihkan waduk dari serangan enceng gondok. Apabila PLTA Saguling yang berkapasitas 700 Mwatt atau setara dengan 2,5 miliar KWH digantikan dengan BBM (solar), perlu 667 ribu barel solar. Nilainya Rp 351 triliun dengan asumsi harga solar per liternya Rp 4500. (Sumber : Inilah REVIEW)